Asal-Usul Keris Sigenjei

Kamu tahu bahwa pada Lambang Daerah Jambi terdapat gambar sebilah keris, maksudnya gambar keris itu adalah keris sigenjei. Keris yang paling indah dari keris-keris lainnya di nusantara itu memiliki bisa yang ampuh.


Keris sigenjei bukan saja terkenal oleh rakyat di Sepuncuk Jambi Sembilan Lurah, tetapi terkenal pula di nusantara sampai ke negara-negara di Eropa. Maklum, atas jasa ahli perkerisan berbangsa Belanda, Tuan C. Den Hammer, menggunakan keris sigenjei sebagai pembanding dalam penelitiannya atas keris-keris lainnya di Asia Tenggara.
Di dalam bukunya berbahasa Belanda, LEGENDE VAN DE KERIS SI GENJEI, 1906, dikatakannya bahwa keris sigenjei itulah keris paling indah dan mempesona sebagai nilai karya seni orang Melayu Jambi masa silam.
Bagaimana asal-usulnya, silahkan pelajari baik-baik cerita berikut, walau cerita berbau mitos.
Bagaimana asal-usul keris sigenjei itu? Untuk menjawab pertanyaan itu, pada cerita beriktu jawabannya. Pelajarilah!
Orang Kayo Hitam, anak bungsu dari pasangan suami istri Datuk Paduko Berhalo asal Turki dan Putri Selaras Pinang Masak asal Kerajaan Pagarrunyung. Orang Kayo Hitam berusaha membebaskan Kerajaan Melayu dari beban pembayaran upeti setiap tahun. Upeti berupa pakasam pacat dan kalong itu sekalipun tidak bernilai, dipandang oleh Orang Kayo Hitam sebagai tanda takluk. Berarti, Kerajaan Melayu tidak berdaulat dan tidak merdeka penuh. Padahal, hubungan baik antara Melayu dan Mataram di tanah Jawa itu telah cukup lama berlangsung.
Ketika utusan Kerajaan Mataram meminta pembayaran upeti, dia disakiti dimarah-marahi oleh Orang Kayo Hitam. Sejak kejadian itu Orang Kayo Hitam berusaha membekali diri dengan bealjar ilmu bela diri, bahasa Jawa, dan adat-istiadat orang-orang Mataram. Beliau berguru kepada seorang bajak laut bernama Lumbu-Lumbu Gilo. Lumbu-Lumbu Gilo yang telah sadar akan perbautannya merampok dan menjarah harta dalam kapal-kapal di perairan Selat Berhala itu diangkat oleh Orang Kayo Hitam sebagai saudara. Kemudian dinobatkan sebagai wakil beliau di kawasan Selat Berhala dan Ujungjabung. Diberi gelar yaitu Pangeran Wirolang Di Laut. Dengan tekun belajar kepada Pangeran Wirolang Di Laut, dapatlah Orang Kayo Hitam berbahasa Jawa dengan fasih, tahu pula adat-istiadat Jawa. Itulah bekalnya untuk berurusan dengan Sanga Prabu Mataram.
Sang Prabu Mataram tersinggung karena utusannya disakiti. Sebagai orang arif bijaksana, beliau menghindari persengketaan, apa lagi akan menyulut perang. Dipanggilnya para ahli nujum dan para tukang tenung. Dipintanya ramalan kelebihan dan kekurangan Kerajaan Melayu. Dia ingin tahu, agar dapat menghadapi segala kemungkinan.
“Sang Prabu”, ujar salah seoarang ahli nujum setalah meneliti dengan kekuatan batinnya perihal Kerajaan Melayu,” tidak tampak oleh hamba niat buruk penguasa Melayu. Tetapi, orang bakan jadi raja itulah yang patut Sang Prabu waspadai. Pemuda itu amat sakti. Tidak satupun senajata jenis apapun akan mampu mencederai dirinya. Kulitnya saja tidak akan tergores. Jika dia akan berbuat sesuatu, umpamanya akan memerangi kita, tidak sanggup kita melawannya.”
“Baik! Menurutmu?” tanya Sang Prabu Mataram kepada salah seorang tukang tenung.
“Dari penglihatan hamba, benarlah kata ahli nujum kita”, sambil melirik pada ahli nujum yang berbicara tadi, “pemuda itu gagah, tampan, dan baik budi. Kita tidak daapt menaklukkannya, karena pemuda itu amat sakti.”
“kalian manakut-nakuti beta?”
“Bukan, bukan ....! Menurut hamba, Kerajaan Melayu dengan Kerajaan Mataram ini akan lebih erat lagi persahabatannya manakala pemuda itu sampai di keraton ini. ”
“Beta bingung mendengar penjelasan kalian. Coba, siapa lagi yang berbiacara?” Bertanya kepada para ahli hujum dan tukang tenung.
Salah seorang dari mereka mengacungkan tangan, kemudian berkata datar,” Pemuda itu bernama Orang Kayo Hitam. Dia akan menginjakkan kaki di tanah Mataram ini. Tampaknya, dia tidak akan berbaut onar. Tetapi, jika salah-salah kita bertindak, maka akibatnya ..., ya ...? Sebaiknya siapkan senjata yang dapat melumpuhkan kesaktiannya.”
“Nah ..., begitu yang beta inginkan! Ayo, apa senjatanya, bagaimana membuatnya? Jelaskan, agar beta berusaha mengadakannya.”
“Ditenung dulu, Tuan Sang Prabu! Beri hamba waktu.”
“Sampai kapan?
“Sampai diketahui dengan pasti.”
“Ngawur lagi ..., kan?
“Bukan ngawur”, sela Putri Ratu, anak tunggal Sang Prabu Mataram yang cantik-jelita dan cerdas itu, “beri kesempatan kepadanya. O ya ..., Bapak temui saya nanti, ya!” dengan kerlingan kepada ahli nujum yang dikatakannya oleh Sang Prabu tadi ngawur lagi.
Setelah ahli hujum dan tukang pulang, keculai yang seorang tadi, dihadapan Sang Prabu Mataram dan Permaisuri, berkatalah Putri Ratu dengan lemahlembut, “Kukira tepat jawaban bapak tadi. Usahkan orang, dindingpun tidak boleh mendengarkan cakap kita. Sebab, rahasia kita dalam menempa senjata ampuh, maka kita akan jadi korban. Akan benar pepatah mengatakan, senjata makan tuan, karena saat ini tidak ada orang lain selain kita, jelaskan kepada Sang Prabu, apa jenis sejata itu, bagaimana pula mengadakannya?”
Ahli nujum menjelaska:” Percakapan kita saat ini tentu diketahui oleh Orang Kayo Hitam, karena dia amat sakti. Karena hamba yakin beliau tidak akan membuat onar, maka hamba jelaskan tentang senjata yang hamba maksudkan.”
“Ya, apapun yang akan terjadi jelaskan!” sambung Putri Ratu yang berusia 20 tahun itu. “Kita tidak menyakiti Orang Kayo Hitam, bukan? Kita hanya bersiap-siap saja, maklum, jika Orang Kayo Hitam berniat jahat, kita dapat membela diri.”
Ahli nujum menjelaskan, katanya: “Tempa sebilah keris! Pilih seorang Empu yang dipercayai. Menempa keris itu ada syaratnya, yaitu 40 malam Jumat Kliwon. Bahan-bahannya besi atau baja sembilan macam yang pangkal namanya ‘p’, misalnya “parang, paku.” Tidak boleh dibeli maupun dipinta, tetapi dicuri. Masing-masing besi dari sembilan jenis senjata itu dicari dari sembilan desa yang nama masing-masing desa berawal huruf ‘p’ juga. Misal, Pekalongan, Pamekasan. Jika syarat pembuatan keris itu terpenuhi, yakinlah bahwa senjata itu dapat kita gunakan untuk menaklukkan Orang Kayo Hitam .
Orang Kayo Hitam memang sangat sakti. Dengan perahu bercadik, hanya membawa tombak bermata tiga dan seekor anak ayam jantan, sampailah beliau di pantai Pulau Jawa. Begitu menginjakkan kaki di tanah Jawa, langsung berubah rupa. Dirinya seakan-akan disulap menjadi pemuda kudisan. Bau bususk badannya membuat orang-orang yang berpapasan dengannya muntah-muntah. Dengan keadaan begitu, dia bisa berjalan bebas sampai di tempat ketika ujung kakinya tersandung suatu benda.
Setelah masuk waktu magrib, baru ujung kakiknya tersandung pasa sebongkah batu. Di tempat itu dia berhenti, kemudian mengamati segala sesuatu di sekitar tempat itu. Di sanalah desa tua Majapahit, desa tua yang telah dilihatnya melalui kekuatan batinnya. Di dalam gua yang tersembunyi dari penglihatan orang banyak, di belakang desa tua bernama Majapahit seorang Empu Menempa keris yang diperlukan oleh Sang Prabu Mataram.
“Mengapa engkau berteriak-teriak, ha...?”
“Hamba tersesat, Empu!” Jawab Si Kudisan dalam bahasa Jawa yang halus dan sopan. “Mohon kerendahan hati Empu, agar hamba bermalam bersama Empu malam ini. Subuh esok hamba akan mencari jalan pulang.”
Tanya jawab berlangsung cukup lama, karena Si Empu itu khawatir atas keselamatan dirinya sendiri. Selama ini tidak seorangpun memijakkan kaki dimuka pintu gua itu. Karena dia manusia berbudi, timbul rasa kasihan kepada pemuda yang memancarkan bau busuk itu.
“Kali ini kukabulkan permintaanmu. Ingat, jangan berdusta! Pagi-pagi esok engkau mesti pulang ke tempatmu.”
Pada malam itu si Empu tidak dapat memejamkan mata, karena benaknya diliputi berbagai pertanyaan. Apakah maksud kedatangan pemuda yang amat sopan ini? Mungkinkah akan merampas keris yang belum kusiapkan? Atau memang dia tersesat?
Malam esoknya datang lagi Si Kudisan. Sedikit terjadi pertengkaran, karena Empu tidak mengizinkan Si Kudisan bermalam lagi di sana. Si Kudisan tidak menjawab, hanya membisu tanpa mau surut.
“Aku tahu, engkau ada maksud tertentu yang dirahasiakan. Ayo, katakan sebelum kuajar engkau!”
“Akan hamba katakan, Empu! Hamba mengidap penyakit yang menjijikkan. Menurut mimpi hamba, Empu seorang yang dapat menyembuhkan hamba.”
“Menyembuhkan kudis melekat di badanmu, begitu?”
“Ya!”
“Aku seorang tabib, bukan dukun! Aku hanya ...., seorang ..., seorang kakek.”
“Seorang penempa keris!”
Tersirap darah Si Empu ke otaknya. Giginya gemeretak menahan amarahnya. Untunglah dengan lemah lembut Si Kudisan meneruskan ucapannya: “Dengan air bekas merendam keris yang belum siap Empu buat sebagai obat hamba. Sungguh Empu, apa gunanya hamba berdusta? Terserah Empu, jika memang tidak ikhlas mengobati hamba, ya hamba pulang.”
Penempa keris itu menundukkan kepala, agaknya berpikir guna mengambil keputusannya.
“Jadi hamba katakan, Empu! Hamba mengidap penyakit yang menjijikkan. Menurut mimpi hamba, empu seorang yang dapat menyembuhkan hamba.”
Karena kasihan dan iba hatinya, direndamnyalah keris belum siap itu dalam air di dalam mangkok terbuat dari tanah liat. Air bekas merendam keris diberikannya kepada Si Kudisan.begitu selesai diteguk, langsung berubah sebagaimana bentuk aslinya.
“Syukur Nak, engkau kuanggap anak kandungku. Rupanya engkau tidak berdusta kepadaku.”
“Untuk apa hamba berdusta, Empu? Karena hamba tidak terbaisa berdusta, lebih-lebih Empu telah mengangkat hamba sebagai anak kandung, patutlah hamba menganggap Empu ayah kandung hamba. Hamba bernama Orang Kayo Hitam!”
Si Empu menggigil, kemudian tergeletak di lantai gua. Pingsan beberapa saat. Saat itu pula Orang Kayo Hitam mengambil keris yang tadi disembunyikan lagi oleh Si Empu. Setelah keris ditusukkannya sebagai konde pada sanggulnya, maklum, sebagai orang bangsawan masa itu, dia bersanggul sebagaimana kebanyakan bangsawan Jawa, didekatinya Si Empu. Diusap-usapkannya beberapa kali muka orang tua itu dengan telapak tangan kanannya. Si Empu siuman.
“Bangun, Ayahanda!” katannya dengan mengubah sapaan untuk membeli hati orang yang telah memenuhi tujuan kedatangan di tanah Jawa.
“Karena Ayahanda, begitu juga saya,” tidak lagi berhamba dan ber-Empu, “terancam keselamatan, maka Empu akan saya pindahkan dari sini. Setalah suasana aman, Ayahanda kujemput. Kita akan bersama-sama menyeberangi Laut Jawa untuk sama-sama menetap di Kerajaan Melayu.”
“Terserahah kepadamu, Nak!”
“Ayahanda, aku akan mencari orang yang akan berpihak kepada kita. Akan kusuruh mengada-ada, umpamanya melapor kepada Sang Prabu, bahwa Orang Kayo Hitam mengamuk. Mayat prajuritnya bergelimpangan. Empu telah tewas di tangan Raja Melayu.”
“Mengapa begitu, Nak?”
“Ayahanda, kita sebagai manusia beradab tidak boleh bunuh-membunuh. Jika berbohong, supaya tidak terjadi bunuh-membunuh, kukira tidak apa Ayahanda.”
“Tujuanmu, Nak?”
“Supaya Sang Prabu datang ke sini. Perselisihan kami disebabkan upeti bisa diselesaikan secara damai. Dengan mengabarkan bahwa Orang Kayo Hitam mengamuk, mungkin beliau suka berdamai.
“Sungguh bagus. Carilah orang di desa. Tetapi Nak, sembunyikanlah ayahmu ini lebih dulu. Ingat, bawa ayah ke kerajaanmu.”
Singkat cerita, setelah menerima berita bahwa Orang Kayo Hitam telah membunuh Si Empu, 40 prajurit jadi mayat, maka segera Sang Prabu mengadakan sidang darurat. Para hulubalang dikumpulkan. Para cerdik-cendikia di undnag untuk mengatasi perbautan onar Orang Kayo Hitam. Dalam rapat itu berkata Putri Ratu, “Orang Kayo Hitam tidak boleh dihadapi dengan kekerasan, sebab senjata untuk menaklukkannya sudah ditangannya. Serahkanlah kepadaku mengatasinya. Terus terang, aku telah bermimpi berjumpa dengan pemuda itu Kami telah mengikat janji sehidup-semati. Jika dia orang sakti, agaknya benar akan terjadi. Mimpiku itu ..., ah ... sudahlah! Kalian, termasuk Ayahanda dan Bunda sertai saja diriku ke desa Majapahit. Sekarang juga!”
Karena salah pengertian, hampir terjadi perkelahian antara serombongan hulubalang dengan Orang Kayo Hitam. Untunglah Tuan Permaisuri melerai dengan kata-kata: “Tunggu! Maksud, Putri Ratu, sungguh cantik ibumu, Anakku. Seumpama dengan kulit jambe masak. Licin bersih, kuning langsat. Ya ..., bak kulit jambe. Patutlah kerajaanmu dinamakan Melayu Jambe.
“Bunda!” Sela Putri Ratu. Kita telah cukup merendahkan diri di hadapan anak jambe, tetapi keangkuhannya bertambah-tambah. Apa yang akan terjadi biarlah terjadi. Kalau berani lawan aku yang seorang perempuan sejati. Ayo, .... mana kerismu!”
“Beta tidak suka meladeni perempuan! Para hulubalangmu perintahkan menghadapi beta. Pahit darah beta titik di bumi Mataram ini.
“Pengecut! Menghadapiku tidak berani!”
“Sungguh-sungguh menantangku?”
“Tunggu, Nak! “teriak agak keras keluar melalui mulut Sang Prabu Mataram.” Jangan tantang adu kekuatan, tetapi dengan adu ksih sayang. Jika suka, beta tidak memaksa, karena anak beta mencintaimu, sebaiknya engkau dan Putri Ratu kami nikahkan.
Jodoh tidak dapat dipaksa-paksa, tidak bisa dicari-cari, semata-mata telah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Terhadap pemuda dan pemudi yang berlainan keturunan itu diikat dengan tali pernikahan di tempat itu juga. Terjadilah bak peribahasa Melayu, ikan di laut asam digunung bertemu dalam belanga. Perselisihan disebabkan upeti berupa pekasam pacat dan kalong itu pupus dengan pernikahan sepasang manusia berlainan jenis itu. Namun begitu, ada juga penyebab hampir terjadi keributan karena salah pengertian.
Ketika perias pria akan menukar tusuk konde sanggul Orang Kayo Hitam, si mempelai pria itu marah-marah. Katanya: “lebih bernilai gunjaiku daripada tanduk kerbau orang Jawa!”
“Hamba akan menata indah sanggul Tuan!” ujar si perias dengan lemah lembut.
“Enyah! Jangan coba-coba secara licik akan merampas gunjaikuk”, sambung Orang Kayo Hitam yang mengira bahwa dengan cara menukar tusuk konde berupa keris belum siap itu dengan tusuk konde bermotif indah terbuat dari tanduk kerbau. Jika itu yang benar-benar terjadi, dirinya akan tewas dibuat keris berkhasiat tinggi itu. Sejak itulah Orang Kayo Hitam menamakan keris itu gunjai, yang lama-kelamaan menjadi sigenjei, keris sigenjei.
Keris sigenjei disiapkan di desa Muarojambi oleh Si Empu yang dulu membuatnya. Si Empu dibawa oleh Orang Kayo Hitam dan Putri Ratu Kerajaan Melayu, Melayu Jambi, sebagaimana dinamakan oleh Putri Ratu menirukan ucapan ibundanya.
Dari cerita tadi, jelaslah bahwa pemegang pertama keris sigenjei adalah Orang Kayo Hitam. Pemegang terakhir adalah Sultan Thaha Syaifuddin. Keris sigenjei sebagai pelambnag kekuasaan Sultan Jambi. Selain itu, dapat pula diketahui bahwa rakyat Daerah Jambi melalui cerita tadi, telah sejak masa silam ber-Bhineka Tunggal Ika, yang dirintis oleh Orang Kayo Hitam. Bayangkan, Orang Kayo Hitam keturunan Turki-Minang, dari buah perkawinan Orang Kayo Hitam-Putri Ratu berdarah Jawa, lahir generasi baru yang kelak merupakan pewaris Kerajaan Melayu Jambi. Patutlah kita teladani sifat dan sikap kebhineka tunggal ikaan yang dirintis oleh leluhur kita.

Terima kasih atas waktunya untuk membaca Asal-Usul Keris Sigenjei ini, dengan harapan semoga artikel Asal-Usul Keris Sigenjei ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Asal-Usul Keris Sigenjei terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke Wani pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Asal-Usul Keris Sigenjei »

No comments: