Biografi Singkat Al-Maturidi

BAB I
PENDAHULUAN


Term Ahli Sunnah wa al-Jama’ah kelihatannya muncuk sebagai reaksi terhadap paham-paham golongan Mu’tazilah. Bertentangan dengan paham Qadariyah yang dianut oleh Mu’taziah dan yang menganjurkan kemerdekaan dan kebebasan manusia dalam berpikir, kemauan dan perbuatan, pemuka-pemuka. Ajaran yang ditonjolkan ialah paham bahwa al-Qur’an tidak bersifat qadim, tetapi baharu dan diciptakan. Itulah sebabnya, paham Ahli Sunnah wa al-Jama’ah muncul untuk menegakkan kembali sunnah yang sepertinya tidak dihiraukan lagi oleh paham Mu’tazilah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Singkat Al-Maturidi
Abu mansur al-Maturidi dilahirkan di Maturid, sebuah kota kecil di daerah Samarkhand, wilayah Trmsoxiana di Asia Tengah yang sekarang di sebut Uzbekistan . Tahun kelahirannya tidak di ketahui secara pasti, hanya diperkirakan sekitar pertengahan abad ke 3 Hijriyah ia wafat pada tahun 333 H/944 M.
Karir pendidikan al-Maturidi lebih di konsentrasikan untuk menekuni bidang teologi ketimbang bidang fiqih, yang mana pemikiran-pemikirannya banyak dituangkan dalam bentuk karya tulis diantaranya:
1. Kitab tauhid
2. Ta’wil al-Qur’an
3. Makhaz Asy-Syara’i
4. Al-jadi
5. Usulfiq
6. Ushul Ad-Din
7. Makalat fi Al-Ahkam
8. Radd Awa’il
9. Al-Abdillah lil Al-Ka’bi
10. Kitab Radd ‘ala al-Qamaratah
Dan masih banyak lagi karangan-karangan beliau lainnya.

B. Doktrin –Doktrin Teologi al-Maturi
a. Akal dan Wahyu
Dalam pemikiran teologinya al-Maturidi berdasarkan pada Al-Qur’an dan akal menurut al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Kemampuan akal dalam mengetahui kedua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat menggunakan akal dalam usaha memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran mendalam tentang makhluk ciptaannya. Kalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut, tentunya Allah tidak akan memerintahkan manusia untuk melakukannya.
Dalam masalaha baik dan buruk al-Maturidi berpendapat bahwa penentu baik dan buruknya sesuatu itu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syari’ah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu.
Al-maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal kepada 3 macam:
1. akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu
2. akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu
3. akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.
Tentang mengetahui kebaikan atau keburukan sesuatu dengan akal, al-Maturidi sependapat dengan mu’tazilah akan tetapi al-maturidi mengatakan bahwa kewajiban tersebut harus diterima dari ketentuan ajaran wahyu saja.

b. Perbuatan manusia
Menurut al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu daam wujud ini adalah ciptaa_Nya dalam hal ini al-Maturidi mepertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dan kodrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia, Tuhan menciptakan daya (kas( dalam diri manusia dan manusia bebas, memakainya dalam hal ini al-Maturidi membawa faham Abu hanafiah yaitu adanya masyiah (kehendak) dan ridha (jerekaan).

c. Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
Menurut al-Maturi berbuat dan berkehendak bukan dengan sewenang –wenang serta sekehendak_Nya semata, tetapi perbuatan dan kehendaknya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkannya sendiri.

d. Sifat Tuhan
Berkaitan dengan masalah sifat Tuhan, terdapat persamaan antara pemikiran al-maturidi dan al-Asy’ari. Al-maturidi berpednapat bahwa sifat itu tidak di katakan sebagai esensi_Nya dan bukan pula lain dari esensi_Nya. Menetapkan sifat bagi Allah tidak harus membawanya pada pengertian anthropomorphisme karena sifat tidak berwujud tersendiri dari zat, sehingga berbilangnya sifat tidak akan membawa kepada berbilanya yang qadim (taaddud al-qudama).

e. Melihat Tuhan
Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Hal ini diberikan oleh al-qur’an antara lain firman Allah dalam Surat Al-Qiyamah ayat 22 dan 23. lebih lanjut ia mengatakan bahwa Tuhan kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata.

f. Kalam Tuhan
Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi. Kalam nafsi adalah sifat qadim abagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (Hadits).
g. Perbuatan manusia
Menurut al-Maturidi, tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini, kecuali semuanya atas kehendak Tuhan, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan, kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak_Nya sendiri. Oleh karena itu, Tuhan tidak wajib berbuat ash-shalah wa al-ashlah (yang baik dan terbaik bagi manusia).
h. Pengutusan rasul
Menurut Al-maturidi, akal memerlukan bimbingan ajaran wahyu untuk mengetahu ikewajiban yang bersifat baik dan buruk serta kewajiban lainnya dari syariat yang di bebankan kepada manusia, jadi, rasul di utus sebagai sumber informasi. Tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan rasul, berarti manusia membebankan sesuatu diluar kemampuan akalnya.

i. Pelaku Dosa besar (murtakib al-Kabir)
Al-maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Sementara iman itu cukup dengan tashdiq dan iqrar, sedangkan amal adalah penyempurnaan iman.

C.

1.

C. Golongan Samarkand
Yang menjadi golongan ini adalah pengikut al-Maturidi sendiri. Golongan ini cenderung ke arah paham Mu’tazilah, sebagaimana pendapatnya. Soal sifat-sifat Tuhan, Maturidi dan Asy’ari terdapat kesamaan pandangan. Menurut Maturidi, Tuhan mempunyai sifat-sifat. Tuhan mengetahui bukan dengan zat_nya, melainkan dengan pengetahuan_Nya. Begitu juga tuhan berkuasa bukan dengan zat_Nya.
Mengenai perbuatan-perbuatan manusia, Maturidi sependapat dengan golongan Mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Apabila ditinjau dari sini, Maturidi berpaham Qadariyah.
Maturidi menolak paham-paham mu’tazilah, antara lain dalam soal:
1. Tidak sepaham mengenai pendapat Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk.
2. Paham posisi menengah kaum Mu’tazilah.
Dengan demikian, lebih lanjut al-Maturidi berpendapat Tuhan mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu. Dan kalam (firman) tidak diciptakan, tetapi bersifat qadim.

D. Golongan bukhara
Golongan ini dipimpin oleh Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi. Dia merupakan pengikut Maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi masih salah satu Murid Maturidi. Dari orang tuanya, al-Bazdawi menerima ajaran-ajaran Maturidi. Kemudian al-bazdawi untuk mengembangkan pemikirannya. Salah seorang muridnya bernama Najm al-Din Muhammad al-Nasafi ikut mennulis karya tentangnya.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan golongan Bukhara adalah pengikut-pengikut al-Bazdawi di dalam aliran al-Maturidiyah. Ia mempunyai pendapat lebih dekat kepada pendapat-pendapat al-Asy’ary.
Namun walaupun sebagai al-ran al-Maturidiyah, al-Bazdawi tidak selamanya sepaham dengan Maturidi. Ajaran-ajaran teologinya banyak dianut oleh sebagaian umat islam yang bermazhab Hanafiyah pemikiran-pemikiran Maturidiyah sampai sekarang masih hidup dan berkembang di kalangan umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA


Harun Nasuition, Teologi islam, (Jakarta: UI Press, 1986)
Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998).
Terima kasih atas waktunya untuk membaca Biografi Singkat Al-Maturidi ini, dengan harapan semoga artikel Biografi Singkat Al-Maturidi ini bermanfaat adanya. Dan mohon maaf jika pada artikel Biografi Singkat Al-Maturidi terdapat kesalahan atau kurang memuaskan. Jangan lupa untuk berkunjung kembali ke Wani pada lain kesempatan

Artikel Terkait : Biografi Singkat Al-Maturidi » Makalah

1 comment:

Ibrahim Lubis said...

Al-Maturidi telah menulis beberapa karya ilmiah yang kesemuanya masih dalam bentuk manuskrip atau makhthutat. Nama lengkap Al-maturidi adalah Abu manshur Muhammad bin mahmud al-hanafi al-mutakallim al-maturidi as-samarkandi.ia lahir di matured dekat samarkand,wilayah Trasoxania,Asia tengah(sekarng termasuk daerah Uzbekistan,Uni sovyet). Oleh sebagian penulis, Al-maturidi dinyatakan keturunan dari Abu Ayyub al-anshari ,seorang sahabat rasulullah di madinah. Makalah ini membahas tentang sepak terjang Al-maturidi melalui Pemikirannya(Al-maturidi).